Mata
"Mata" Apakah kita manusia masih membutuhkannya??
atau, apakah perlu ditambahkan atau diperbanyak lagi????
entahlah....aku juga bingung.
tapi cobalah tanyakan ke punggawa rakyat, mungkin ada jawabnya??.
"Mata" Apakah kita manusia masih membutuhkannya??
atau, apakah perlu ditambahkan atau diperbanyak lagi????
entahlah....aku juga bingung.
tapi cobalah tanyakan ke punggawa rakyat, mungkin ada jawabnya??.
Langit telah mulai berganti warna...
seiring dengan cahaya matahari sore yang meredup...
suara beduk dan adzan masjid pun seakan membisiki, bahwa penantian itu telah tiba
Tak terasa, detik ini, jam ini, hari ini, bahkan bulan kesucian ini, banyak makna yang kugenggam...
semoga pencapaian ini, tidaklah sampai hari ini saja...
percayalah...semua ini ada balasannya...
yakni, 'surga...,surga dan surga'.
selamat menunaikan ibadah puasa, semoga amal dan berkahnya, kita kan dapatkan. amin

“Aaaghhhh………..!!!” teriak seorang anak muda saat berada di tengah keramaian mahluk berotak. Luruh terduduk di pangku jalanan kota. Tak peduli dipandangi tajam oleh orang-orang yang lalu lalang, seperti sepasang mata elang menatapi mangsanya.
Diakhir teriakannya, ia mengeluarkan seluruh napasnya, berhembus…, selanjutnya hening. Dalam keheningan itu, jiwanya bersatu antara panas dan dingin yang membuatnya gerah bergelora.
Lelaki yang penuh luka disekujur tubuhnya, pun heran kok tiba-tiba dirinya berubah di detik itu juga. Ia pun bertanya-tanya dalam bathinnya yang disalahkan, tapi tak bisa menjawab. “Yah, kenapa dengan diriku,” gumamnya. Dan secara spontan, ia bangkit hendak merangkul pejalan di sekelilingnya. Tapi tak berhasil. Malahan mereka semuanya menghindar dan menjauh darinya.
Ia pun heran, mengapa mereka menghindar. Padahal ingin bertanya mengapa dengan dirinya. Hatinya pun sakit dengan orang-orang yang cuma berbisik melihatnya. Seakan diiris pisau bedah dan dibiarkan menganga. “Yah, mungkin mereka sudah menganggapku gila,” gumamnya lagi. Dan kembali hening…….???
“Tidak!!!Tidak!!! Aku tidak gila,” gumamnya lagi. Cuma ingin bertanya kok, mengapa orang-orang pada berubah dan takluk dalam kehidupan modern, serta tumbuh dalam kebohongan.
Lelaki bernama Asgar itu tiba-tiba menangis tersedu, meratapi tubuhnya yang terluka akibat di pukuli orang-orang tak dikenal saat demonstrasi menentang pembebasan pelaku koruptor di Kejaksaan Tinggi (Kejati).
Masih mengenakan jas merah yang sobek –di sulaman namanya bertuliskan sebuah universitas terkemuka di Indonesia Timur- hendak bangkit dan bersandar di dinding bangunan tua tak berpenghuni. “Ha….ha…!! bangunan ini seolah cerminan diriku,” tawanya miris.
Waktu di hari itupun makin berlalu. Ia pun lelah dan lemas memikirkannya. Cahaya matanya pun meredup memandangi pejalan yang semakin kabur dan hitam……..???
Dalam kesunyian itu, telinganya menangkap suara-suara asing dan berbicara aneh. Kelopak matanya pun pelan-pelan dibuka. Sayup-sayup matanya melihat bayangan putih didekatnya, menjamah tubuhnya yang terluka. Ia pun hanya pasrah, bila dirinya sudah berada di pintu neraka dengan mahluk yang siap menanyainya……..?
Matanya pun kembali dipejamkan. Agak lama. Perlahan-lahan dibukanya lagi kelopak matanya. Bayangan putih sedari tadi duduk didekatnya semakin jelas dihadapan matanya. Ah, Ia pun terbelalak …………???
…….kaget (matanya pun berkitar, menyusuri setiap sudut disekitarnya)
Di hembuskannya napasnya……………….
“Ah, rupanya aku di rumah sakit ditemani suster yang cantik,” katanya. Suster yang berpakaian putih didekatnya pun tersenyum seraya memeriksa kembali kondisi tubuhnya.
“Tapi kenapa aku dibawa kesini,” gumamnya. puuuuhhhhhh………
Tak terasa sudah 4 tahun kuberada dalam lingkaran pertanyaan......
tapi hanya kudapat sebuah jawaban ?
......bertualang
Menurutku, sosok yang satu ini memiliki karakter sangat kuat tapi adakalanya patut untuk tunduk oleh alam. Sosok ini kusebut gedung pencakar langit.
Dengan wajah dan tubuhnya yang megap terpantul dari terik matahari yang panas, patut untuk jadi perhatian diantara bangunan lain. Sirik, weeeeeeeee…………..tidaklah.
Kubayangkan bagaimana susahnya bangunan itu dibentuk secara seni oleh tangan-tangan kasar berotot dan keringat dekil yang menyatu dalam keikhlasan. Dengan sebungkus nasi tempe menyuapinya. Dengan beberapa macam mata, mulai dari burung-burung, manusia, dan lain-lain berkoar tentang seni yang dibuat pekerja itu.
Ahh….! Sungguh naïf koarnya.
Ahh….! Sungguh naïf bangunan itu juga.
Tapi saya selalu salut terhadap bangunan itu. Walaupun ada pandangan kontra terhadapnya, ia mampu bertahan dan tetap mampu tersenyum. Termasuk pula dapat menunjukkan bahwa ia itu ada, walaupun seisi dan selingkungannya lagi ‘down’?
Ahh….! Tak sadar kusandarkan punggungku disandaran kursi yang dari tadi duduk sambil menaruh kedua tanganku dikepala, berkhayal. “Andai bangunan itu dapat menyatu kedalam sosokku.” Mungkin membuatku bernapas lega, menggantikan hari-hari yang tidak mendukung?
Pikiranku semakin kalot, berpikir, mengingat beberapa kejadian yang sempat membuat jiwaku menahan tawa, jengkel bahkan marah.
Entah kenapa, tiba-tiba sehelai daun gugur menampar jidatku. Yang secara tak sengaja menghentikan pikiranku yang kacau balau.
Entah kenapa pula, tiba-tiba ada gadis mengajakku tersenyum sepenuh hati, mampir di taman rumah sambil membisiku “nikmatilah hari-harimu sang pria, dari dulu dunia begini (mengutip kata Packay pada kata terakhir).” Yahh…..tentu saja adakalanya kita berada diatas, ada kalanya kita dibawah.
Saat itu pula, kata itu membuat hormon adrenalinku meningkat. Lantas berpikir, buat apa kujadi bangunan yang kaku itu. Apabila saya mampu tersenyum ala iklan ‘close up’ menjalani hari-hariku. Ah….anganku pun mulai terbang memperbaiki kehidupan yang baru. Chayo…!
Makassar, Juli 2005
Buat teman-teman yang kusam aktivitasnya
Kujadi Reporter karena Kamu
Rabu (08/06), Pukul 16.30 Wita, aku bergegas kekamar mandi untuk mandi sore. Telat memang, maka kuguyurlah tubuhku dengan air licin (sebutan teman-teman yang airnya seakan berlendir). Semuanya kulakukan dengan tergesa-gesa, mengingat waktu sholat magrib sudah akan habis. Ketika lima kali timba kugayung, tiba-tiba teringat masa lalu yang membawaku datang kesini. “Ada sesuatu yang telah terlupakan,” ungkapku. Seakan air itu membawaku kedalam satu lingkaran waku hanyut kedalamnya. Lagi, kubergegas menuju kamar dan mengganti pakaian, lalu tunaikan shalat magrib.
***
Entah mengapa Selasa (07/06) kemarin, tiba-tiba ada seseorang menyodorkan air aqua botol di mace-mace dekat radio EBS FM, Unhas, seolah tahu yang kucari. Setelah menerima sodorannya, kutatap mukanya yang indah, tersontak aku sama-sama kaget dengan dia. “Kamu..!” sambil saling menunjuk.
“Apa kamu sudah selesai studinya,” sapanya. “Belum..” Maksudnya, saya belum mendapat titah kapan selesainya.” Padahal saya lagi merangkak mengubah IPK yang turun drastis selama ini. Lalu kutatap bodinya yang berubah drastis semenjak kukenal tiga tahun lalu.
“Kerja dimana sekarang? Apa kamu masih tinggal di jalan Sunu,” tanyaku balik. “Aku kerja di salah satu perguruan tinggi di Makassar sebagai Pegawai, dan masih tinggal di sana,” ujarnya. Sempat kuberguman, kok bisa yah lulusan Kedokteran menjadi pegawai di kampus itu. Kulihat ia sepertinya terburu-buru ingin kesuatu tempat. Entahlah, mungkin bergegas pulang atau kemanalah. Setelah berlalu, kutersenyum seorang diri seakan memeringatiku arti seorang wanita.
***
Tok..tok…“Bisa saya masuk pak,” ucapku pada saat masuk ruangan kuliah di lecture theatre (LT) 7. “Oh, bisa. Silakan masuk dulu lalu keluar lagi dan tutup pintu dari luar,” jawabnya mengusir. Memang waktu itu saya terlambat mengikuti mata kuliah Rancob yang dibawakan oleh dosen bermuka sangar tersebut. Saya pun keluar dengan enjoy yang kebetulan hari itu lagi malas masuk belajar.
Saya pun duduk di besi-besi sambil memerhatikan hawa-hawa lewat yang terkena cekaman mode. Mataku pun tak kuasa menahan mengikuti setiap gerakan hawa tersebut. Tapi kebiasaanku ini terkadang cuma selintas untuk menghilangkan penat dikepalaku yang panas.
Tiba-tiba mataku terhenti di amparan bangku mace-mace. Kulihat seorang dara seperti kehilangan induknya, entah mau melakukan apa tapi tidak ada maksud. Mau menuju kesuatu tempat tapi bingung apa tujuannya.
Saya pun menghampirinya dan mengajaknya berbincang. “Oh, jadi namamu Desy yah,” kataku sambil manggut-manggut. Setelah sekian menit berbingcang, entah mengapa jadi akrab seperti memunyai hubungan yang dekat. Saya pun mengajaknya bercanda (kebiasaanku ketika melihat seseorang lagi bersedih).
Ketika teman-temanku pada keluar dari ruangan kuliah, mereka mengajakkku ke secretariat Himpunan di Fakultas Peternakan. Saya pun pamit dari dia. “Eh, namamu tadi Piss Athila kan,” saya pun mengiyakan secara refleks. “Nomor telepon kamu berapa,” tanyanya. “0411-840869. Call aja, belakangan ini saya selalu di rumah.”
Tanpa sadar ketika berjalan, temanku, Herman, sontak menarikku sambil memberikan kode arah 6 (sandiku, yang berarti lihat kebelakang). Saya pun menoleh. Dan eh, ternyata ia mengikutiku dari tadi, entah ada magnet apa dalam diriku. Kupanggillah ia dan kutanyakan mengapa mengikutiku. “Bukankah kamu tadi menunggu seseorangmu di sana.” Ia tak menjawab tapi menundukkan kepalanya seperti ada sesuatu yang ingin dikatakan tapi tidak mau. Tapi itu tidak membuatku khawatir, lalu kuajaklah ia ketempatku.
Setelah beberapa menit selesai rapat kepanitiaan Baksos. Kuceritakanlah anak ini kepada teman-temanku. “Wah yang lagi jatuh hati nih,” ledek Cute, teman wanitaku, yang disambut tawa oleh yang lain. “Oh, bukan itu maskudku. Saya Cuma ingin tahu banyak hal tentang anak ini,” bantahku, walau dalam hati memang juga menjurus kesitu. Saya pun lalu menjelaskan maksud dan niat kepada teman-temanku. “Kalau begitu kita harus melakukan penyelamatan,” ujar teman-temanku serentak seakan menjadi anggota Delta force di Amerika Serikat.
Kami pun pulang bersama-sama. Tapi kali ini saya bertanya-tanya sama dia sambil bercanda laiknya seorang reporter yang mengejar objek berita.
Beberapa hari melakoni sebagai sosok reporter (kebetulan saat itu saya menjadi reporter di Media Anthraks di Senat Mahasiswa Peternakan) mencari tahu ada apa dengan dia, sampai telepon-teleponan. Tanpa sadar, saya terbawa dalam cerita ‘patah’ cintanya terhadap seorang mahasiswa peternakan. Cerita itulah membuat pikiranku sempat terganggu beberapa menit, karena ia adalah kekasih temanku yang hilang kebahagiannya bersamanya. Menurutnya, dia suka dengan sosokku yang terkesan cuek dan enak diajak bicara –entahlah, itu menurut persepsinya. Jadi mau buat apa melakukan penyelamatan! Haha….tertawaku tanpa maksud apa-apa.
Akhirnya setelah beberapa hari dari cerita itu. Pejantannya mengetahui kedekatanku.tapi ia tak refleks-refleks apa-apa. Mungkin ia tahu itu cuma ingin membantu sibetinanya. Itu kuketahui saat terakhir meneleponku. Sejak itu, perlahan-lahan rona wajah dan suara khasnya seakan hilang ditelan perut bumi. Tak ada lagi kabar darinya dan mengabarkan diriku.
Saya pun akhirnya meneruskan lakonku di Pers kampus. Tentu saja menambah skillku dan merefleksikan kembali jiwaku yang hilang. Wuihh…capek rasanya kuterdiam di sebuah tangga dekat Rektorat menatap kehidupan sore kampus ini. Saya haus, dan kulangkahkan kakiku ke radio kampus EBS FM. Kebetulan didekatnya terdapat mace-mace yang menjual air minum gelas dan akhirnya……….???
thanks Dess, Pertemuan 5 menit itulah
kutergerak ingin melawan waktu ini di kampus.
Makassar, Juni 2005
Masih ingat tidak kisah film kartun yang berjudul “El Dorado.” Kota hilang yang terdapat di suatu pulau dari negara Spanyol, yang berlimpah akan emas. Mengapa dikatakan kota emas? Ini tak lain mulai dari bangunan, perhiasan, bahkan sampai kupu-kupu dihiasi dengan emas.
Ketakjuban pulau ini pun sampai terdengar gaungnya sampai dipelosok bumi ini. Termasuk kerajaan Spanyol sendiri yang mengerahkan beberapa kapal beserta tentara lautnya mencari pulau ini.
Sampai suatu ketika, dua pemuda jalanan (Miguel dan lupa siapa namanya) yang sedang mengadu ketangkasan dengan penjudi setempat, berhasil mendapatkan selembar peta lokasi dimana kota tersebut berada. Tetapi malangnya miguel dan temannya dikejar-kejar oleh penjudi dan beberapa tentara kerajaan yang berhasil dikerjainya.
Kedua pemuda itu pun bersembunyi di dalam kapal. Dan celakanya mereka berada dalam kapal kerajaan tersebut. Hingga mereka melarikan diri bersama kuda panglima kerjaan (bernama Altivo) dan terdampar dipulau tersebut. Dan beruntungnya keduanya dijadikan raja oleh penduduk setempat. Saat menjabat jadi raja bohongan, keduanya terlibat perselisihan (percintaan, harta, persahabatan, dan kedudukan). Akhirnya perselisihan tersebut, sedikit demi sedikit sirna sejak mengetahui kedatangan tentara kerajaan yang akan memasuki kota tersebut. Mereka akhinya menutup pintu masuk kota tersebut tanpa membawa secuil pun emas. Kecuali Altivo yang terdapat pada sepatunya. Dan panglima tersebut tidak mengetahui secara pasti letak kota itu.
***
Keberadaan harta karun yang tersembunyi disuatu tempat, memang mempunyai daya tarik yang sangat bernilai harganya. Terkadang yang menemukan barang antik ini membuat sipenemu lupa akan posisinya sebagai manusia. Ya, rakus, tamak, dan sombonglah. Begitulah, harta karun ini seakan memiliki magnet untuk menjerumuskan seseorang kelubang hitam.
Pernah terpampang dihalaman depan surat kabar nasional bahkan ditayangkan di beberapa televisi swasta beberapa bulan yang lalu, ada pejabat daerah yang bermukim disalah satu kabupaten di Jawa tengah memercayai seorang dukun yang mengatakan dilokasi itu terdapat harta kekayaan peninggalan raja majapahit (kalau tidak salah) yang tersembunyi di bawah sebuah prasasti kuno.
Kontan saja, lokasi yang dimaksudkan tersebut membuat beberapa pejabat ini berlomba mencari harta (yang kebenarannya masih diragukan) yang konon katanya sudah berunur sekian abad. Bahkan sampai menyewa beberapa tenaga yang biayanya tidak main-main. Entah dari mana mereka mendapatkan biaya yang sebesar itu. Lokasi itupun berubah seperti tempat pembuatan batu bata yang penuh lubangan besar.
Kritikan pun menuai dengan derasnya dari masyarakat bawah sampai para ulama di berbagai wilayah di Indonesia. Mereka bertanya-tanya, apa sih yang dicarinya? Harta kekayaan sebagai pejabat sudah lebih dari pada cukup untuk ukuran di Indonesia. Jadi apalagi yang dicarinya? Katanya untuk mengamankan benda tersebut dari pencuri harta. Entahlah, hanya mereka yang tahu!
Alhasil, setelah beberapa hari mereka berburu. Secuil pun tak ada yang mereka dapat. Hanya malu dan pengrusakan tempat sejarah yang mereka dapatkan. He..he..kasihan…! Khusus mereka akhlak pun tak ada, sehingga sosok seorang yang memunyai agama pun tak ada pada dirinya. Padahal sebagai aparatur negara, mereka seharusnya memberikan cerminan buat masyarakat sebagai tingkah laku yang sangat pas untuk jadi pemimpin. Kalau perlu mereka harus menggali harta kekeyaan iman pada dirinya, bukan pada duniawi.
Menurutku, pejabat-pejabat bahkan ulama di beberapa daerah di Jawa (maaf, bukan ras atau persoalan suku tapi nyata) seakan-akan memperlihatkan kebodohannya dan kewarasan yang sulit untuk ditebak apa kemauannya. Lihat saja baru-baru ini, lagi aksi kepala daerah salah satu kabupaten di Jawa, yang menaruh fotonya di sampul Al quran. Katanya sih, Al quran itu merupakan kenang-kenangan untuk jamaah haji nantinya. Walaupun kita tahu itu semata-mata mendekati Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) nantinya. Ada juga ulama yang menggebrak masyarakat sholat dengan menggunakan bahasa Indonesia. He…he..sungguh aneh dan waras .…!
Im sorry Mala, tak semudah gitu
Saya menepikan ‘rasa’, Apalagi new friend.
Lembang, Jaya Giri, 12 Apil 2005