athila

Monday, December 05, 2005

Mata

"Mata" Apakah kita manusia masih membutuhkannya??

atau, apakah perlu ditambahkan atau diperbanyak lagi????

entahlah....aku juga bingung.

tapi cobalah tanyakan ke punggawa rakyat, mungkin ada jawabnya??.

Monday, October 03, 2005

Penantian

Langit telah mulai berganti warna...
seiring dengan cahaya matahari sore yang meredup...
suara beduk dan adzan masjid pun seakan membisiki, bahwa penantian itu telah tiba

Tak terasa, detik ini, jam ini, hari ini, bahkan bulan kesucian ini, banyak makna yang kugenggam...
semoga pencapaian ini, tidaklah sampai hari ini saja...
percayalah...semua ini ada balasannya...
yakni, 'surga...,surga dan surga'.

selamat menunaikan ibadah puasa, semoga amal dan berkahnya, kita kan dapatkan. amin

slamat kawan


kau tlah pergi tanpa seberkas kata untukku...
nggak apalah, kuharap kisah lalu tak hilang selamanya...
selamanya...selamanya...
slamat jalan kawan, sampai ketemu lagi dilain waktu...

*tuk mengenang 'teman' yang memilih dunia lain

Tuesday, September 27, 2005

“Gerah dalam Tanya”


“Aaaghhhh………..!!!” teriak seorang anak muda saat berada di tengah keramaian mahluk berotak. Luruh terduduk di pangku jalanan kota. Tak peduli dipandangi tajam oleh orang-orang yang lalu lalang, seperti sepasang mata elang menatapi mangsanya.

Diakhir teriakannya, ia mengeluarkan seluruh napasnya, berhembus…, selanjutnya hening. Dalam keheningan itu, jiwanya bersatu antara panas dan dingin yang membuatnya gerah bergelora.

Lelaki yang penuh luka disekujur tubuhnya, pun heran kok tiba-tiba dirinya berubah di detik itu juga. Ia pun bertanya-tanya dalam bathinnya yang disalahkan, tapi tak bisa menjawab. “Yah, kenapa dengan diriku,” gumamnya. Dan secara spontan, ia bangkit hendak merangkul pejalan di sekelilingnya. Tapi tak berhasil. Malahan mereka semuanya menghindar dan menjauh darinya.

Ia pun heran, mengapa mereka menghindar. Padahal ingin bertanya mengapa dengan dirinya. Hatinya pun sakit dengan orang-orang yang cuma berbisik melihatnya. Seakan diiris pisau bedah dan dibiarkan menganga. “Yah, mungkin mereka sudah menganggapku gila,” gumamnya lagi. Dan kembali hening…….???

“Tidak!!!Tidak!!! Aku tidak gila,” gumamnya lagi. Cuma ingin bertanya kok, mengapa orang-orang pada berubah dan takluk dalam kehidupan modern, serta tumbuh dalam kebohongan.

Lelaki bernama Asgar itu tiba-tiba menangis tersedu, meratapi tubuhnya yang terluka akibat di pukuli orang-orang tak dikenal saat demonstrasi menentang pembebasan pelaku koruptor di Kejaksaan Tinggi (Kejati).

Masih mengenakan jas merah yang sobek –di sulaman namanya bertuliskan sebuah universitas terkemuka di Indonesia Timur- hendak bangkit dan bersandar di dinding bangunan tua tak berpenghuni. “Ha….ha…!! bangunan ini seolah cerminan diriku,” tawanya miris.

Waktu di hari itupun makin berlalu. Ia pun lelah dan lemas memikirkannya. Cahaya matanya pun meredup memandangi pejalan yang semakin kabur dan hitam……..???

Dalam kesunyian itu, telinganya menangkap suara-suara asing dan berbicara aneh. Kelopak matanya pun pelan-pelan dibuka. Sayup-sayup matanya melihat bayangan putih didekatnya, menjamah tubuhnya yang terluka. Ia pun hanya pasrah, bila dirinya sudah berada di pintu neraka dengan mahluk yang siap menanyainya……..?

Matanya pun kembali dipejamkan. Agak lama. Perlahan-lahan dibukanya lagi kelopak matanya. Bayangan putih sedari tadi duduk didekatnya semakin jelas dihadapan matanya. Ah, Ia pun terbelalak …………???

…….kaget (matanya pun berkitar, menyusuri setiap sudut disekitarnya)

Di hembuskannya napasnya……………….

“Ah, rupanya aku di rumah sakit ditemani suster yang cantik,” katanya. Suster yang berpakaian putih didekatnya pun tersenyum seraya memeriksa kembali kondisi tubuhnya.

“Tapi kenapa aku dibawa kesini,” gumamnya. puuuuhhhhhh………

Saturday, September 24, 2005

"Sudah 4 Tahun"

Tak terasa sudah 4 tahun kuberada dalam lingkaran pertanyaan......

tapi hanya kudapat sebuah jawaban ?

......bertualang

Saturday, July 16, 2005

"Sosok"

Menurutku, sosok yang satu ini memiliki karakter sangat kuat tapi adakalanya patut untuk tunduk oleh alam. Sosok ini kusebut gedung pencakar langit.

Dengan wajah dan tubuhnya yang megap terpantul dari terik matahari yang panas, patut untuk jadi perhatian diantara bangunan lain. Sirik, weeeeeeeee…………..tidaklah.

Kubayangkan bagaimana susahnya bangunan itu dibentuk secara seni oleh tangan-tangan kasar berotot dan keringat dekil yang menyatu dalam keikhlasan. Dengan sebungkus nasi tempe menyuapinya. Dengan beberapa macam mata, mulai dari burung-burung, manusia, dan lain-lain berkoar tentang seni yang dibuat pekerja itu.

Ahh….! Sungguh naïf koarnya.
Ahh….! Sungguh naïf bangunan itu juga.

Tapi saya selalu salut terhadap bangunan itu. Walaupun ada pandangan kontra terhadapnya, ia mampu bertahan dan tetap mampu tersenyum. Termasuk pula dapat menunjukkan bahwa ia itu ada, walaupun seisi dan selingkungannya lagi ‘down’?
Ahh….! Tak sadar kusandarkan punggungku disandaran kursi yang dari tadi duduk sambil menaruh kedua tanganku dikepala, berkhayal. “Andai bangunan itu dapat menyatu kedalam sosokku.” Mungkin membuatku bernapas lega, menggantikan hari-hari yang tidak mendukung?

Pikiranku semakin kalot, berpikir, mengingat beberapa kejadian yang sempat membuat jiwaku menahan tawa, jengkel bahkan marah.

Entah kenapa, tiba-tiba sehelai daun gugur menampar jidatku. Yang secara tak sengaja menghentikan pikiranku yang kacau balau.

Entah kenapa pula, tiba-tiba ada gadis mengajakku tersenyum sepenuh hati, mampir di taman rumah sambil membisiku “nikmatilah hari-harimu sang pria, dari dulu dunia begini (mengutip kata Packay pada kata terakhir).” Yahh…..tentu saja adakalanya kita berada diatas, ada kalanya kita dibawah.

Saat itu pula, kata itu membuat hormon adrenalinku meningkat. Lantas berpikir, buat apa kujadi bangunan yang kaku itu. Apabila saya mampu tersenyum ala iklan ‘close up’ menjalani hari-hariku. Ah….anganku pun mulai terbang memperbaiki kehidupan yang baru. Chayo…!

Makassar, Juli 2005
Buat teman-teman yang kusam aktivitasnya

Saturday, July 09, 2005

Kujadi Reporter karena Kamu

Rabu (08/06), Pukul 16.30 Wita, aku bergegas kekamar mandi untuk mandi sore. Telat memang, maka kuguyurlah tubuhku dengan air licin (sebutan teman-teman yang airnya seakan berlendir). Semuanya kulakukan dengan tergesa-gesa, mengingat waktu sholat magrib sudah akan habis. Ketika lima kali timba kugayung, tiba-tiba teringat masa lalu yang membawaku datang kesini. “Ada sesuatu yang telah terlupakan,” ungkapku. Seakan air itu membawaku kedalam satu lingkaran waku hanyut kedalamnya. Lagi, kubergegas menuju kamar dan mengganti pakaian, lalu tunaikan shalat magrib.

***

Entah mengapa Selasa (07/06) kemarin, tiba-tiba ada seseorang menyodorkan air aqua botol di mace-mace dekat radio EBS FM, Unhas, seolah tahu yang kucari. Setelah menerima sodorannya, kutatap mukanya yang indah, tersontak aku sama-sama kaget dengan dia. “Kamu..!” sambil saling menunjuk.

“Apa kamu sudah selesai studinya,” sapanya. “Belum..” Maksudnya, saya belum mendapat titah kapan selesainya.” Padahal saya lagi merangkak mengubah IPK yang turun drastis selama ini. Lalu kutatap bodinya yang berubah drastis semenjak kukenal tiga tahun lalu.

“Kerja dimana sekarang? Apa kamu masih tinggal di jalan Sunu,” tanyaku balik. “Aku kerja di salah satu perguruan tinggi di Makassar sebagai Pegawai, dan masih tinggal di sana,” ujarnya. Sempat kuberguman, kok bisa yah lulusan Kedokteran menjadi pegawai di kampus itu. Kulihat ia sepertinya terburu-buru ingin kesuatu tempat. Entahlah, mungkin bergegas pulang atau kemanalah. Setelah berlalu, kutersenyum seorang diri seakan memeringatiku arti seorang wanita.

***

Tok..tok…“Bisa saya masuk pak,” ucapku pada saat masuk ruangan kuliah di lecture theatre (LT) 7. “Oh, bisa. Silakan masuk dulu lalu keluar lagi dan tutup pintu dari luar,” jawabnya mengusir. Memang waktu itu saya terlambat mengikuti mata kuliah Rancob yang dibawakan oleh dosen bermuka sangar tersebut. Saya pun keluar dengan enjoy yang kebetulan hari itu lagi malas masuk belajar.

Saya pun duduk di besi-besi sambil memerhatikan hawa-hawa lewat yang terkena cekaman mode. Mataku pun tak kuasa menahan mengikuti setiap gerakan hawa tersebut. Tapi kebiasaanku ini terkadang cuma selintas untuk menghilangkan penat dikepalaku yang panas.

Tiba-tiba mataku terhenti di amparan bangku mace-mace. Kulihat seorang dara seperti kehilangan induknya, entah mau melakukan apa tapi tidak ada maksud. Mau menuju kesuatu tempat tapi bingung apa tujuannya.

Saya pun menghampirinya dan mengajaknya berbincang. “Oh, jadi namamu Desy yah,” kataku sambil manggut-manggut. Setelah sekian menit berbingcang, entah mengapa jadi akrab seperti memunyai hubungan yang dekat. Saya pun mengajaknya bercanda (kebiasaanku ketika melihat seseorang lagi bersedih).

Ketika teman-temanku pada keluar dari ruangan kuliah, mereka mengajakkku ke secretariat Himpunan di Fakultas Peternakan. Saya pun pamit dari dia. “Eh, namamu tadi Piss Athila kan,” saya pun mengiyakan secara refleks. “Nomor telepon kamu berapa,” tanyanya. “0411-840869. Call aja, belakangan ini saya selalu di rumah.”

Tanpa sadar ketika berjalan, temanku, Herman, sontak menarikku sambil memberikan kode arah 6 (sandiku, yang berarti lihat kebelakang). Saya pun menoleh. Dan eh, ternyata ia mengikutiku dari tadi, entah ada magnet apa dalam diriku. Kupanggillah ia dan kutanyakan mengapa mengikutiku. “Bukankah kamu tadi menunggu seseorangmu di sana.” Ia tak menjawab tapi menundukkan kepalanya seperti ada sesuatu yang ingin dikatakan tapi tidak mau. Tapi itu tidak membuatku khawatir, lalu kuajaklah ia ketempatku.

Setelah beberapa menit selesai rapat kepanitiaan Baksos. Kuceritakanlah anak ini kepada teman-temanku. “Wah yang lagi jatuh hati nih,” ledek Cute, teman wanitaku, yang disambut tawa oleh yang lain. “Oh, bukan itu maskudku. Saya Cuma ingin tahu banyak hal tentang anak ini,” bantahku, walau dalam hati memang juga menjurus kesitu. Saya pun lalu menjelaskan maksud dan niat kepada teman-temanku. “Kalau begitu kita harus melakukan penyelamatan,” ujar teman-temanku serentak seakan menjadi anggota Delta force di Amerika Serikat.

Kami pun pulang bersama-sama. Tapi kali ini saya bertanya-tanya sama dia sambil bercanda laiknya seorang reporter yang mengejar objek berita.

Beberapa hari melakoni sebagai sosok reporter (kebetulan saat itu saya menjadi reporter di Media Anthraks di Senat Mahasiswa Peternakan) mencari tahu ada apa dengan dia, sampai telepon-teleponan. Tanpa sadar, saya terbawa dalam cerita ‘patah’ cintanya terhadap seorang mahasiswa peternakan. Cerita itulah membuat pikiranku sempat terganggu beberapa menit, karena ia adalah kekasih temanku yang hilang kebahagiannya bersamanya. Menurutnya, dia suka dengan sosokku yang terkesan cuek dan enak diajak bicara –entahlah, itu menurut persepsinya. Jadi mau buat apa melakukan penyelamatan! Haha….tertawaku tanpa maksud apa-apa.

Akhirnya setelah beberapa hari dari cerita itu. Pejantannya mengetahui kedekatanku.tapi ia tak refleks-refleks apa-apa. Mungkin ia tahu itu cuma ingin membantu sibetinanya. Itu kuketahui saat terakhir meneleponku. Sejak itu, perlahan-lahan rona wajah dan suara khasnya seakan hilang ditelan perut bumi. Tak ada lagi kabar darinya dan mengabarkan diriku.

Saya pun akhirnya meneruskan lakonku di Pers kampus. Tentu saja menambah skillku dan merefleksikan kembali jiwaku yang hilang. Wuihh…capek rasanya kuterdiam di sebuah tangga dekat Rektorat menatap kehidupan sore kampus ini. Saya haus, dan kulangkahkan kakiku ke radio kampus EBS FM. Kebetulan didekatnya terdapat mace-mace yang menjual air minum gelas dan akhirnya……….???

thanks Dess, Pertemuan 5 menit itulah

kutergerak ingin melawan waktu ini di kampus.

Makassar, Juni 2005

Monday, June 20, 2005

"El Dorado"

Masih ingat tidak kisah film kartun yang berjudul “El Dorado.” Kota hilang yang terdapat di suatu pulau dari negara Spanyol, yang berlimpah akan emas. Mengapa dikatakan kota emas? Ini tak lain mulai dari bangunan, perhiasan, bahkan sampai kupu-kupu dihiasi dengan emas.

Ketakjuban pulau ini pun sampai terdengar gaungnya sampai dipelosok bumi ini. Termasuk kerajaan Spanyol sendiri yang mengerahkan beberapa kapal beserta tentara lautnya mencari pulau ini.

Sampai suatu ketika, dua pemuda jalanan (Miguel dan lupa siapa namanya) yang sedang mengadu ketangkasan dengan penjudi setempat, berhasil mendapatkan selembar peta lokasi dimana kota tersebut berada. Tetapi malangnya miguel dan temannya dikejar-kejar oleh penjudi dan beberapa tentara kerajaan yang berhasil dikerjainya.

Kedua pemuda itu pun bersembunyi di dalam kapal. Dan celakanya mereka berada dalam kapal kerajaan tersebut. Hingga mereka melarikan diri bersama kuda panglima kerjaan (bernama Altivo) dan terdampar dipulau tersebut. Dan beruntungnya keduanya dijadikan raja oleh penduduk setempat. Saat menjabat jadi raja bohongan, keduanya terlibat perselisihan (percintaan, harta, persahabatan, dan kedudukan). Akhirnya perselisihan tersebut, sedikit demi sedikit sirna sejak mengetahui kedatangan tentara kerajaan yang akan memasuki kota tersebut. Mereka akhinya menutup pintu masuk kota tersebut tanpa membawa secuil pun emas. Kecuali Altivo yang terdapat pada sepatunya. Dan panglima tersebut tidak mengetahui secara pasti letak kota itu.

***

Keberadaan harta karun yang tersembunyi disuatu tempat, memang mempunyai daya tarik yang sangat bernilai harganya. Terkadang yang menemukan barang antik ini membuat sipenemu lupa akan posisinya sebagai manusia. Ya, rakus, tamak, dan sombonglah. Begitulah, harta karun ini seakan memiliki magnet untuk menjerumuskan seseorang kelubang hitam.

Pernah terpampang dihalaman depan surat kabar nasional bahkan ditayangkan di beberapa televisi swasta beberapa bulan yang lalu, ada pejabat daerah yang bermukim disalah satu kabupaten di Jawa tengah memercayai seorang dukun yang mengatakan dilokasi itu terdapat harta kekayaan peninggalan raja majapahit (kalau tidak salah) yang tersembunyi di bawah sebuah prasasti kuno.

Kontan saja, lokasi yang dimaksudkan tersebut membuat beberapa pejabat ini berlomba mencari harta (yang kebenarannya masih diragukan) yang konon katanya sudah berunur sekian abad. Bahkan sampai menyewa beberapa tenaga yang biayanya tidak main-main. Entah dari mana mereka mendapatkan biaya yang sebesar itu. Lokasi itupun berubah seperti tempat pembuatan batu bata yang penuh lubangan besar.

Kritikan pun menuai dengan derasnya dari masyarakat bawah sampai para ulama di berbagai wilayah di Indonesia. Mereka bertanya-tanya, apa sih yang dicarinya? Harta kekayaan sebagai pejabat sudah lebih dari pada cukup untuk ukuran di Indonesia. Jadi apalagi yang dicarinya? Katanya untuk mengamankan benda tersebut dari pencuri harta. Entahlah, hanya mereka yang tahu!

Alhasil, setelah beberapa hari mereka berburu. Secuil pun tak ada yang mereka dapat. Hanya malu dan pengrusakan tempat sejarah yang mereka dapatkan. He..he..kasihan…! Khusus mereka akhlak pun tak ada, sehingga sosok seorang yang memunyai agama pun tak ada pada dirinya. Padahal sebagai aparatur negara, mereka seharusnya memberikan cerminan buat masyarakat sebagai tingkah laku yang sangat pas untuk jadi pemimpin. Kalau perlu mereka harus menggali harta kekeyaan iman pada dirinya, bukan pada duniawi.

Menurutku, pejabat-pejabat bahkan ulama di beberapa daerah di Jawa (maaf, bukan ras atau persoalan suku tapi nyata) seakan-akan memperlihatkan kebodohannya dan kewarasan yang sulit untuk ditebak apa kemauannya. Lihat saja baru-baru ini, lagi aksi kepala daerah salah satu kabupaten di Jawa, yang menaruh fotonya di sampul Al quran. Katanya sih, Al quran itu merupakan kenang-kenangan untuk jamaah haji nantinya. Walaupun kita tahu itu semata-mata mendekati Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) nantinya. Ada juga ulama yang menggebrak masyarakat sholat dengan menggunakan bahasa Indonesia. He…he..sungguh aneh dan waras .…!



Cerita Alam

Alam. Begitu mendengar nama ini, mungkin tiba-tiba kita teringat dengan salah seorang keluarga, sahabat, pacar atau dosen kita. Yah…, biasalah, “nama pasaran” kata orang umum. Tapi bukan itu, Alam, yang jadi inpirasi lahirnya nama-nama itu. Alam yang memberi nuansa hijau dimata, kedamaian dan warna. Alam adalah ayat Tuhan, yang terus mengiring akal kita pada persoalan eksistensialis.

Sekian abad silam, para filsuf naturalistik telah meramu konsep hubungan manusia dengan alam, tentang bagaimana seharusnya manusia memperlakukan alam. Dalam kehidupan manusia, ada dua sisi berlawanan yang menjadi tolak ukur dalam bertingkah laku di atas bumi, baik-buruk, bagus-jelek, indah dan tidak indah dan seterusnya. Dalam kitab kepercayaan Tao, konsep ini dikenal lebih jauh sebagai Yin dan Yang. Sebuah konsep yang punya kaitan erat dengan pencipta, alam dan diri manusia.

Alam adalah karya Ilahi yang sangat indah. Memandangnya akan membuat hati damai. Tuhan tak pernah mencipatakan alam dalam keadaan tidak indah. Manusialah yang membuat alam manjadi tidak indah, hingga secara kausa, alam kadang menjadi boomerang, malapetaka.

Dalam bingkai religius, alam adalah pelayan manusia sekaligus guru baginya. Pada dapat menundukkan alam, tapi secara sadar maupun tidak, hidup kita dikekang dan diatur oleh alam. Musim yang datang silih bergantian jadi titik acuh pola hidup manusia. Musim bisa saja mendatangkan kebahagiaan juga bisa saja memberikan penderitaan. Suatu hal yang selalu berubah sepanjang perjalan waktu. Kata seorang sahabat, apa yang abadi di dunia ini.

Kita, manusia kota. Kadang tak jauh memikirkan dan menghayati keberadaan alam. Alam jadi menarik bagi kita, jika tiba-tiba saja ada hal yang kita butuhkan dan bertalian dengannya. Seperti air, salah satu sumber kehidupan yang sangat urgent bagi masyarakat kota. Kita akan menelusuk tentang keberadaan alam lebih jauh, jika musim kemarau tiba atau suatu ketika saat kita dalam keadaan haus, tiba-tiba saja seorang gadis muncul dan menyuapi kita air, pada saat itu…, mungkin pada saat itu…! Tak punya maksud mengikuti jejak Thales, filsuf abad klasik yang memulai pencarian hakekat dengan melihat air. Mungkin ini persoalan waktu saja, Thales lahir lebih duluan dari kita.

Air sifatnya ada yang tenang dan ada pula yang mengalir, tapi pada umumnya selalu berada di dataran rendah dan sifatnya rill (nyata), berbeda dengan udara yang abstrak secara materia dan hanya dapat dirasa oleh kepekaan elemen tubuh. Air memberikan kehidupan bagi makhluk hidup, yang menghijaukan dedaunan, menjernihkan dan membersihkan sesuatu. Halnya udara, yang membantu mahluk hidup untuk bernapas, memberikan kesejukan disaat malam untuk terlelap. Keduanya bagian dari alam, dapat menjernihkan dan menyejukkan, tapi pada titik tertentu akibat kelalaian manusia ia dapat mengotori.

Dua unsur ini, memiliki sisi-sisi yang, air dapat menenggelamkan dan menghanyutkan sesuatu. Begitu halnya dengan udara yang dapat memporak-porandakkan sesuatu. Bila keduanya menyatu, kekuatannya akan menjadi dahsyat. Bila udara berhembus sepoi, dan hujan rinai akan membuat seorang terkena influenza. Begitulah, sama-sama membuat makhluk dibumi ini sengsara dengan penderitaanya.

Menurutku, air dan angin sangat cocok untuk mengetahui perilaku seseorang. Tubuh manusia didefinisikan menjadi dua hal, yaitu bagian luar tubuh (yang nyata terlihat, baik pandangan kita maupun orang lain), inilah yang disebut sebagai wujud dari air. Sedangkan yang kedua yaitu, bagian dalam tubuh (bukan organnya, tetapi ruhnya), yang ini kusebut hanyalah angin. Pada wujud yang pertama ini perilaku dan sifat seseorang dapat terlihat dengan jelas melalui pancaran cahayanya, garis dan lekuk kulitnya, serta auranya.

Tetapi wujud ini mudah ditebak kelakuan baik dan buruknya. Berbeda halnya dengan wujud dalamnya yang tersembunyi dibalik wujud luarnya. Terkadang wujud dalam ini terbagi lagi dalam beberapa hal, yaitu keburukan dan kebaikan. Tapi ini sulit untuk ditebak.. Hmmm…. Seperti persainganlah? Keduanya saling sikut ingin di depan. Terkadang pula keduanya bersatu untuk mencapai sesuatu. Hmmm…lagi-lagi sulit pikirku! Bagaimana tidak, inilah yang kadang membuat seseorang bisa tertipu, dengan wujud luar yang lemah lembut tapi ternyata didalamnya punya maksud lain. Bisa-bisa inilah yang menjadikan seseorang berlagak, congkak, sombong dan sebagainya. Ahh…pusing mikirnya.

Tapi aku yakin perubahan perwujudan sifat dan perilaku seseorang yang terjadi, tidak secara revolusi. Ia melalui proses, mungkin ada hal yang menyebabkannya berubah? Jin, setan atau hantukah…,hmmm…, entahlah. Mungkinkah ada kelemahan pada imannya, hmmm…entahlah. Yang jelas, mari kita berlaku, apakah ingin keluar dari mainstream atau jalan biasayya mo….

Im sorry Mala, tak semudah gitu
Saya menepikan ‘rasa’, Apalagi new friend.

Lembang, Jaya Giri, 12 Apil 2005